Rabu, 05 Februari 2014

Sifat-Sifat Tuhan Menurut Pendapat MU'TAZILAH DAN ASY'ARIYAH

SIFAT-SIFAT TUHAN
MENURUT PENDAPAT
MU’TAZILAH DAN ASY’ARIYAH

Persoalan tentang Tuhan sangatlah perlu pemikiran dan Analisis yang kuat sehingga tidak ada kesalahan dalam menginterpretasikan tentang zat, sifat maupun keberadaannya. Sesuatu yang Qadim hanyalah zat Tuhan dan selainnya akan rusak tanpa kita sadari. Hal ini disepakati oleh beberapa Aliran dalam Islam namun dalam persoalan yang lain  terdapat banyak pertentangan diantara mereka. Seperti Tuhan mempunyai Sifat ataukah tidak? Disini, terdapat dua golongan yang sangat kontra sehingga perlu kita telusuri

1. Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah yang dikenal dengan sebutan kaum Rasionalis Islam karena banyak menggunakan akal dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya membawa salah satu ajaran yaitu Peniadaaan Sifat-sifat Tuhan (Nafy Al-Sifat).
Apa-apa yang disebut dengan sifat-sifat Tuhan sebenarnya bukanlah sifat yang mempunyai wujud diluar zat Tuhan tetapi sifat yang merupakan Esensi Tuhan. Paham ini berasal dari Jahm, ia berpendapat bahwa sifat-sifat yang ada pada manusia tidak dapat diberikan kepada Tuhan yang disebut dengan Anthropomophism ( Al-Tajassum/At-Tasybih ) namun dirinya masih beranggapan bahwa Tuhan berkuasa, berbuat dan mencipta.
Salah seorang murid Wasil (Pelopor Mu’tazilah) yaitu Abu Al-Huzail, pemimpin ke-2 dari cabang Basrah setelah Wasil. Ia menjelaskan tentang peniadaan Tuhan dengan beranggapan bahwa Tuhan tidak mungkin mempunyai sifat yang berwujud sendiri kemudian melekat pada zat Tuhan karena Zat Tuhan adalah Qadim maka segala sesuatu yang melekat padaya juga bersifat Qadim. Dari sinilah akan terdapat dua hal yang Qadim dan menimbulkan penafsiran adanya dua Tuhan ( Syirik ). Maka untuk menjaga ke-Esaan Tuhan dan kemurnian Tauhid Tuhan tidak boleh dikatakan memiliki sifat. Pada salah satu ayat , Mu’tazilah mengartikan bahwa Tuhan mengetahui bukan dengan sifat namun mengetahui dengan pengetahuannya yang merupakan zat Tuhan. Hal itulah yang dijadikan landasan oleh Huzail untuk mengatasi adanya anggapan Tuhan lebih dari satu dengan menjadikan Sifat Tuhan adalah zat Tuhan maka adanya sifat Qadim selain Tuhan akan sirna dan kemurnian Tauhid semakin nyata.

2. Asy’ariyah
            Al-Asyari seorang pelopor Aliran ini dulunya adalah penganut Aliran Mu’tazilah namun karena ketidak sesuaian pendapat ia keluar bahakan menentangnya kemudian mendirikan Golongan Baru yang disebut Asy’ariyah. Sebagai golongan yang bersebrangan, Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai Sifat. Mustahil jika Tuhan mengetahui melalui zatnya karena itu kan menimbulkan pemahaman bahwa Zatnya adalah Pengetahuan dan tentu saja Tuhan adalah pengetahuan. Padahal Tuhan adalah yang mengetahui ( ‘Alim ) bukan Pengetahuan ( ‘Ilm ) begitu pula dengan sifat-sifat Tuhan yang lain. Pendapat ini dikuatkan oleh Teks Al-Qur’an
$yJ¯RÎ) $uZä9öqs% >äóÓy´Ï9 !#sŒÎ) çm»tR÷Šur& br& tAqà)¯R ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÍÉÈ  
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.1
            Dalam penjelasannya bahwa sifat-sifat yang ada pada Tuhan bukannya sifat yang memiliki arti diciptakannya Tuhan. Seperti Tuhan diakhirat nanti dapat dilihat, hal ini tidak mengandung pengertian bahwa yang dapat dilihat tidak mesti yang diciptakan, maka Tuhan dapat dilihat bukan berarti Tuhan diciptakan karena Tuhan itu berwujud maka mesti dapat dilihat.

            Maka, anggapan tentang ada atau tidaknya sifat-sifat Tuhan, kedua golongan (Mu’tazilah dan Asy’ariyah ) berbeda pendapat dengan landasan-landasan yang kuat. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi kita bagaimana mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki sifat ataukah tidak ?! 2






1   An-Nahl ( 16 : 40 )

2 Nasution, Harun, Teologi Islam; Aliran-aliran sejarah Analisa perbandingan, cet.5, Jakarta :  Penerbit Universitas Indonesia ( UI-Press ), 1986 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar